Langsung ke konten utama

Refleksi

Semakin dewasa, diriku semakin dipercaya untuk mendengarkan cerita masalah orang dewasa, contohnya saja cerita mengenai rumah tangga. semakin dewasa, gambaran tentang keluarga semakin jelas. 

Memulai rumah tangga memang sangat menyenangkan. Berawal dari masa penjajakan kemudian melanjutkan ke arah yang lebih serius yaitu pernikahan, pemberkatan pernikahan dihadapan Tuhan. Menurutku untuk memulai rumah tangga butuh kepercayaan satu sama lain, rasa saling mencintai. Benarkan?



Tapi lebih dari itu, adalah bagaimana cara kita mempertahankan sebuah keluarga. Kita harus menahan rasa egoisme diri kita. Saling pengertian. Membangun keluarga adalah sama dengan membangun Gereja kecil. Apalagi ketika sudah mempunyai anak, mungkin pertimbangan mempertahankan keluarga adalah demi kebahagiaan si anak.




Tidak semua orang dilahirkan dengan sifat sama, tidak semua orang cocok satu sama lain karena punya banyak kesamaan. Kecocokan bisa terjadi karena perbedaan. Tapi sampai dimana titik kecocokan itu bisa bertahan? Apakah kebosanan bisa menjadi salah satu akibatnya? Bahkan orang yang sudah lama bekerja pada suatu pekerjaan bisa bosan dengan sendirinya, apalagi pernikahan, wajar jika titik kebosanan itu muncul. 



Menurutku, pernikahan adalah sebuah misteri. Seorang - dua orang memutuskan untuk hidup bersama, menghadapi masa susah bersama. Kalau orang yang tidak saling mencintai mungkin akan berat menghadapinya.



Cinta itu menakjubkan ya? Aku harap banyak keluarga yang bisa untuk mempertahankan keluarganya. memang pernikahan tidak selamanya bahagia, ada masa-masa menyebalkan, membuat marah, kecewa, dll. Tapi aku harap mereka masih ingat bahwa Tuhan mempertemukan belahan jiwa kalian. Jagalah dengan baik. Dan ingatlah juga bahwa kalian sudah berjanji pada Tuhan untuk selalu bersama seumur hidup. Jadi jika masa susah itu muncul, berdoalah. Mintalah bantuan pada Tuhan, solusi dari-Nya pasti berat, namun jika kita percaya dia akan memberikan solusi yang paling indah yang bisa kita nikmati buahnya dengan manis dikemudian hari. Kalian hanya perlu percaya. Ya, percaya pada-Nya. 



credits of pics : Orang Muda Katolik's Official Line, www.google.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Masa SMA : SMA STELLA DUCE 1 YOGYAKARTA

Saat ini, pukul 10.52 entah mengapa saya teringat akan masa SMA saya. Dan satu yang ada di pikiran saya, saya ingin menulis gambaran masa SMA saya di blog ini. Yap, saya sebenarnya tinggal di Jakarta, hanya saja saya harus berpisah dengan kedua orang tua dan menempuh pendidikan di Yogyakarta, kota kelahiran saya. Serame apapun Jogja, tetap nyaman buat saya untuk tinggal disana. Jadi tidak ada masalah dengan saya untuk beradaptasi dengan kultur Jogja.  Di SMA ini bagi saya adalah, titik balik dari kepribadian saya yang sebelumnya anti sosial, tidak banyak bicara, pemalu, prestasi sekolah dibawah rata-rata. Salah satu alasannya adalah karena saya harus tinggal di asrama. Yap, SMA Stella Duce 1 adalah Boarding School. Mau tidak mau saya harus berinteraksi dengan banyak orang. Jujur ini sangat berat untuk saya. Apalagi, ketika saya pertama kali datang ke asrama, suster kepala memberi saya wanti-wanti bahwa saya harus berkelakuan baik, kalau tidak, dalam sehari satu sekol...

Pengalaman dan Tips mengikuti SIMAK UI 2015

Haloo readerrrs, long time no see. Oh ya,, pertama-tama saya ucapin Selamat Natal 2015 dan Tahun Baru 2016 yaaa :) Seperti janji saya sebelumnya, saya mau sharing pengalaman saya selama saya masih menjadi jobseeker. Lho jobseeker? Tapi kok ambil S2 sih? Yap, dibulan Januari ini, saya memutuskan untuk melanjutkan studi saya ke jenjang yang lebih tinggi. Ini merupakan salah satu target hidup saya di tahun yang baru ini. Saya sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti tes SIMAK UI selama 3 bulan hehe. UI saya pilih karena lokasi perkuliahannya dekat dari rumah saya :) Pada SIMAK UI kali ini saya mengambil jurusan Magister Kenotariatan (MKn). Saya mengikuti tes sekitar tanggal 29 November 2015 kemarin. Puji Tuhan saya lolos SIMAK UI ini. Dan memulai perkuliahan bulan Febuari nanti. Doakan ya readers supaya saya bisa mengikuti perkuliahan dengan baik dan lulus dan menjadi Notaris handal yang bekerja sesuai jalan Tuhan. ^.^ yaudah yuk, daripada saya ntar malah curhat, lang...

Pengalaman ikut SEP :)

Pada akhir tahun 2017, saya mengalami masa-masa yang berat dalam hidup saya. Dan saya tidak tahu harus kemana dan berbuat apa agar untuk keluar dari keterpurukan ini. Lalu datanglah seorang senior alumni Sekolah Evangelisasi Pribadi (SEP), menjelaskan kepada saya apa itu SEP, dan mengajak saya untuk bergabung. Jujur, saya muak dan capek dengan hal-hal yang berbau religi, apalagi ketika saya penuh dengan masalah saat itu. Saya muak se muak-muaknya. Tak terasa, sebulan, dua bulan berlalu saat terakhir kali saya mendengar SEP dari kakak itu, tiba-tiba kakak itu menghubungi saya lagi, dan lagi, dan lagi untuk ikut SEP. Bahkan dia menyempatkan waktu untuk bertemu dan sharing pengalamannya ikut SEP. Baiklah, akhirnya saya luluh, setelah begitu gigihnya dia menjelaskan kepada saya apa itu SEP, dan yakin SEP dapat menolong saya dari keterpurukan hidup saya. Akhirnya saya mendaftarkan diri dan melakukan wawanhati. Ketika saya wawanhati, kegiatan SEP masih belum terbayangka...